Kampus Mengajar 2: Titik terang di Selakambang

Tulisan ini dikisahkan oleh Fendi Setiawan, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia yang lolos program Kampus Mengajar Angkatan 2 dengan sekolah sasaran di SDN 3 Selakambang, Jawa Tengah.

Perjalanan panjang Affan siswa kelas 2 SD Negeri 3 Selakambang menemukan titik terang. Affan Saputra nama lengkapnya. Berdasarkan laporan wali kelas dan orang tuanya, Affan ini sosok anak pendiam yang super pendiam. Dengan teman sepermainanpun tidak pernah berinteraksi seperti layaknya teman yang lain. Bahkan dengan orang tuanyapun di rumah jarang sekali meminta sesuatu atau komunikasi. Berdasarkan penjelasan guru kelas 2, dalam kegiatan belajar mengajarpun mengalami kesulitan mulai dari belum bisa membaca dan menulis. Akibatnya Affan ini tertinggal jauh dengan teman yang lain. 

Setelah 2 bulan di SD Negeri 3 Selakambang, masa perkenalanku dengan Affanpun dimulai karena Affan terlibat dalam program kerjaku di Kampus Mengajar Angkatan 2 yaitu Posko calistung (Baca Tulis, dan hitung). Selama proses perkenalan, kutemui banyak kejanggalan pada Affan. Sempat berfikir bahwa Affan ini tidak bisa berbicara, karena selama satu jam bertemu tidak ada sepatah katapun keluar dari lisannya, hanya senyum-senyum malu yang terpancar di wajahnya. Dari hal tersebut, aku semakin tertarik untuk mengenal lebih jauh Affan. 

Suatu waktu dalam menjalankan program Posko Calistung, Affan kuajak untuk keliing sekolah. Dengan mimik yang sama, Affan selalu diam dan tampak kebingungan. Meskipun begitu interaksi dan obrolan ringan kumulai untuk memecam suasana. Namun apalah daya selama beberapa jam belum satu katapun terucap oleh Affan. Bahkan setelah beberapa minggu berinteraksi Affan hanya mengerjakan apa yang kuinstruksikan tanpa mengucapkan satu katapun. Kegiatan tersebut berlangsung selama 2 bulan.

Setelah 2 bulan bersama dengan Affan, banyak hal yang kusampaikan ke Affan meskipun hanya ditanggapi dengan senyum yang mungkin bermakna ia paham.  Lambat laun, aku memahami karakter Affan, meskipun pendiam ia pandai memainkan alat musik. Untuk itu selama program Posko Calistung kugunakan lagu-lagu dan alat musik untuk menarik minat Affan. Selama sepekan menerapkan metode tersebut, akhirnya Affan mau berbicara meskipun dengan nada yang rendah. Alhamdulillah, suatu keajaiban bagiku karena pertama kali mendengar suara Affan. Setiap perkembangan Affan selalu kucatat, misal berapa kosa kata yang di keluarkan Affan, berapa kali senyum Affan. 

Selain itu, setiap perkembangan Affan selalu kusampaikan ke orang tua agar dapat membantuku di rumah mengajarkan apa yang saya ajarkan di sekolah. Setelah sekian lama, Affan tampak lebih nyaman dengan keberadaanku, sehingga mau sedikit merespon pertanyaan yang kuajukan. Misalkan, pertanyaanku adalah “Affan sudah makan?”, maka ia hanya akan menjawan “ya”. Jawaban yang singkat, padat namun sangat berarti. Setelah dianalisis ternyata Affan mau berinteraksi di tempat yang sepi bersama orang yang membuatnya nyaman. Maka dari itu setiap mengikuti program Posko Calistung, Affan selalu menyendiri di ruang kelas. 

Dengan berakhirnya kegiatan Kampus Mengajar Angkatan 2 Affan menunjukkan perubahan yang cukup baik. Saat ini, Affan sudah bisa menulis, membaca sedikit-sedikit, dan berhitung dengan sempoa serta yang pasti senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Tepat tanggal 16 Desember 2021, Affan berani menghampiriku di perpustakaan sekolah hanya untuk bersalaman dan mengucapkan “Terima Kasih Pak Pendi” sambil memeluk kakiku. Saat itu juga air mata ini tak terasa sudah menetes. Terima Kasih Affan yang telah memberikan pelajaran hidup. Semua orang memiliki potensi masing-masing. Temukan potensi itu dan kembangkan. Maka bersiaplah menjadi orang hebat. (AE, 23/12/21)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.