Mencintai Rasulullah Barometer Kesempurnaan Iman

Cinta tak akan berarti jika tidak melahirkan sebuah pengorbanan, karena cinta tidak dikatakan cinta sejati sebelum sang pencinta merasa yakin dan tulus berkorban dengan segenap jiwa terhadap kekasih yang dicintainya.

Cinta seperti inilah yang harus dimiliki seorang muslim dalam mencintai Rasulullah. Seberapa besar cintanya kepada Rasulullah akan menyempurnakan imannya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadisnya, “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)

Salah seorang sahabat yang bernama Zaid bin Ad-Datsinah adalah teladan dalam ketulusan mencintai Rasulullah hingga orang musyrik pun mengagumi besarnya cinta para sahabat kepada Rasulullah

Pada tahun ke-3 hijriyah, Rasulullah mengutus 10 sahabat atas permintaan suku Udhal dan Qarah agar mengajarkan Islam kepada mereka. Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai pemimpinnya. Namun di tengah perjalanan, para sahabat dikhianati dan dikepung oleh 100 pemanah dari bani Lihyan hingga rombongan musyrik itu pun menyerang dan berhasil membunuh Ashim dan tujuh sahabat lain, lalu tinggallah Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ad-Datsinah.

Kemudian orang-orang musyrik itu menjual Khubaib dan Zaid ke Makkah sebagai budak. Shafwan bin Umayyah membeli Zaid untuk kemudian ia bunuh sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayahnya Umayyah bin Khalaf pada perang Badar.

Sesaat sebelum Zaid dieksekusi, Abu Sufyan memberikan penawaran kepadanya dan berkata: “Wahai Zaid, apakah kamu suka apabila Muhammad sekarang menggantikan posisimu, lalu kami memenggal lehernya, sedangkan kamu berada di tengah keluargamu?” Kecintaan Zaid kepada Rasulullah meneguhkan imannya, lalu ia menjawab: “Demi Allah, aku tidak rela bila Muhammad sekarang di tempatnya saat ini terkena duri yang menyakitinya sedangkan aku duduk di tengah keluargaku.” lalu Abu Sufyan kagum seraya berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mencintai seseorang seperti kecintaan para sahabat Muhammad kepada Muhammad.”

Renungkanlah, wahai pembaca yang mencintai Rasulullah

Apakah cinta kita kepada Rasulullah sudah setulus cinta Zaid bin Ad-Datsinah ?

Apakah cinta kita kepada Rasulullah sudah melebihi cinta kita kepada orang tua, anak dan seluruh manusia ?

Bagaimana mungkin kita mengaku cinta sedang lisan ini tidak mau bershalawat kepada Rasulullah ?

Bagaimana mungkin kita mengaku cinta sedang amalan sunah Rasulullah sering diabaikan ?

Mari kita berusaha selalu bershalawat kepada Rasulullah dan berupaya selalu mengamalkan sunah-sunahnya sebagai bentuk cinta kita kepadanya.  

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ

(MI/18/10/21)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *