Written by Humas Al Hikmah   
Friday, 09 August 2019 11:29

 

 

Plagiarism Checker X Originality Report

Similarity Found: 31%

Date: Friday, May 10, 2019

Statistics: 1246 words Plagiarized / 4061 Total words

Remarks: Medium Plagiarism Detected - Your Document needs Selective Improvement.

-------------------------------------------------------------------------------------------

JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 46 PERAN GURU DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN

KURIKULUM 2013 EDISI REVISI Slamet Widodo Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar STKIP Al Hikmah Surabaya Jl. Kebonsari Elveka V Surabaya ? A b s tr a ct The education for the advance must be able to answer the challenges of time furtherance and civilization.

Nowadays, the education must be able to encounter the era of industry revolution 4.0. Therefore, the Government of Republic Indonesia make public policy to apply 2013 curriculum and then be revised according to weakness at the practice. For teachers sure must be able to innovate in the instruction, due to based on that revised it means there are the new things must be changed to be better.

Innovations could do by the teachers for that problem are: 1) teachers teach religion and social to student through integration in the instruction and practice to live days in the school (hidden curriculum), 2) teacher innovate the syllabus and instructions appropriate need, can adapt with situation, condition, and civilization, 3) teacher have a creative for choose and apply the instruction strategy (approach, model, and method instruction), especially for elementary school teacher can innovate the theme and theme sub appropriate with student need, and 4) teacher apply the thinking skills based on digital literate to all of the levels (low, middle, and high order thinking skill) appropriate the school stage and student development.

Keywords: Trol , 2013 curriculum revise edition, learning Abstrak Dunia pendidikan ke depan harus mampu menjawab tantangan-tantangan kemajuan zaman dan peradaban. Sekarang pendidikan harus mampu menghadapi era revolusi industri 4.0. Oleh karena


itu, pemerintah menerapkan kurikulum 2013 yang kemudian direvisi berdasarkan kekurangan-kekurangan yang ditemukan.

Bagi guru tentunya harus mampu berinovasi dalam pembelajaran, karena berdasarkan revisi tersebut berarti ada hal baru yang harus dirubah untuk menjadi lebih baik. Inovasi yang dapat dilakukan guru dalam menyikapi hal tersebut yakni: 1) guru harus mengajarkan spiritual dan sosial dengan cara mengintegrasikan dalam pembelajaran dan praktik sehari-hari dalam lingkungan sekolah (hidden curriculum), 2) guru melakukan inovasi silabus dan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, dapat menyesuaikan dengan situasi, kondisi, dan perkembangan zaman, 3) guru kreatif dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran (pendekatan, model, dan metode pembelajaran), bahkan khusus guru SD dapat menginovasi tema dan sub tema sesuai dengan JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No.

01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 47 kebutuhan, dan 4) guru mengaplikasikan kecakapan berpikir berbasis literasi digital teknologi pada semua level (low, middle, and high order thinking skill) sesuai dengan jenjang pendidikan dan perkembangan siswa.

Kata Kunci: peran guru, kurikulum 2013 edisi revisi, pembelajaran © 2018 PGSD STKIP AL HIKMAH PENDAHULUAN Dunia pendidikan memasuki babak baru era revolusi industri 4.0, dan ke depan tantangan semakin tinggi lagi.

Selain menyiapkan peserta didik yang memiliki kualifikasi sesuai tuntutan zaman, peran guru juga semakin berat ketika menghadapi prediksi tantangan kehidupan abad 21, terutama kompleksitas kehidupan berperadaban maju dan digitalisasi teknologi. Hal tersebut tentunya membutuhkan keseriusan guru dalam berinovasi. Perubahan lingkungan yang bergerak dinamis membutuhkan respon cepat dan kepekaan guru.

Dari respon tersebut kemudian diimplikasikan dalam pembelajaran.

Perubahan lingkungan tersebut meliputi perubahan lingkungan alam, sosial, budaya, bahasa, agama, dan berbangsa. Hal tersebut dibutuhkan kemampuan guru untuk menumbuhkan kemampuan siswa dalam hal kepekaan, keimanan, ketaqwaan, peduli, inisiatif, kemampuan adaptasi, dan rasa cinta terhadap tanah air. Harapanya setelah siswa dijarkan kemampuan tersebut siswa memiliki kepribadian karakter yang holistik.

Kompleksitas kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja juga menjadi faktor yang penting bagi guru dalam pembelajaran. Guru harus menyiapkan genarasi yang mampu merespon dengan cepat kebutuhan dunia industri dan lapangan kerja, walaupun belajar sebenarnya tidak hanya menyiapkan siswa untuk siap pada dunia kerja melainkan menjadikan siswa menjadi manusia yang memiliki keutuhan hidup sesuai kodratnya.


Selain itu, peradaban manusia semakin maju diikuiti dengan digitalisasi di segala lini kehidupan. Terbukti laju perkembangan teknologi informasi yang pesat, ditandai dengan inovasi smartphone. Hal tersebut berdampak perubahan pola kerja, semula belanja harus dilakukan secara transaksi langsung tetapi sekarang sambil duduk di rumahpun barang yang dibeli akan sampai dengan sendirinya. Tanpa harus keluar yang menghabiskan ongkos, waktu dan tenaga.

Oleh karena itu, guru harus menyiapkan siswa untuk mampu memiliki keterampilan literasi digital teknologi dalam hal membaca, menulis, sains, informasi, teknologi, kolaborasi, komunikasi, budaya, dan kewarganegaraan yang baik. Oleh karena itu, dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut maka pemerintah Indonesia menerapkan kurikulum 2013 dalam sistem pendidikan nasional.

Sesuai dengan namanya kurikulum 2013 diberlakukan sejak tahun 2013. Selama pelaksanaanya, antara rentang tahun 2013 sampai tahun 2017 telah mengalami revisi, karena menyesuaikan dengan konteks pelaksanaan. Secara arti kata sebenarnya kurikulum beradarbaa in re” ng melikari lar etdam konteks pendidikan memiliki a ri su dan ndarn”.Saden nt pendidikan yang paling tepat adalah arti JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 46 “kurs”.Sa hakurlu didefinisikan sebagai rencana untuk pembelajaran, (Akker et al., 2009).

Sedangkan tingkatan dan penerapan kurikulum dilakukan sesuai levelnya, seperti yang tertera pada tabel berikut ini. Bagan 1. Tingkatan dan penerapan kurikulum Jadi kurikulum 2013 merupakan tingkatan kurikulum macro, karena diterapkan secara nasional dalam satu negara. Pelaksanaan kurikulum tersebut meliputi semua level pendidikan dari tingkat siswa sampai sekolah.

Sedangkan negara memiliki kewenangan dalam teknis pelaksanaan dan evaluasinya. Pada tahun 2015 telah dilakukan revisi kurikulum 2013, berikut ini disajikan tabel bagian revisi tersebut. Tabel 1. Revisi kurikulum 2013 No. Aspek kekurangan Aspek revisi 1.

Semua guru memiliki kewajiban melakukan pembelajaran dan asesmen terhadap sikap spiritual dan sikap sosial.

Guru yang mengajar akhlak/agama dan kewarganegaraan saja yang wajib melakukan pembelajaran dan penilaian sikap spiritual dan sikap sosial, namun bukan berarti selain guru akhlak/agama dan kewarganegaraan lepas tanggungjawab, melainkan secara moral semua guru juga tetap memiliki kewajiban mengajarkan hal tersebut. 2.

Ketidakcocokan antara KI (kompetensi inti)- KD (kompetensi dasar) dengan silabus dan buku. KI-KD dicocokkan dengan silabus dan buku. 3.


Penggunaan pendekatan scientific yang terdiri dari 5M (mengamati, menanya, mencoba/ mengumpulkan data, mengasosiasikan, dan mengkomunikasika n) dalam pembelajaran. Penggunaan pendekatan pembelajaran bebas sesuai dengan konteks kebutuhan, sehingga bebas berkreasi dan berinovasi. 4. Keterampilan berpikir siswa dibatasi dengan klasifikasi dan pemenggalan taksonomi.

Keterampilan berpikir siswa tidak dibatasi, artinya semua taksonomi proses berpikir diajarkan siswa dengan menyesuaikan perkembangan siswa. 5. Nama: kurikulum 2013, (UH) ulangan harian, (UAS) ujian akhir semester 1, ujian akhir semester 2, (masih ada UTS) Diganti dengan: kurikulum 2013 edisi revisi, (PH) penilaian harian, (PAS) penilaian akhir semester, penilaian akhir tahun, (tidak ada UTS tetapi langsung PAS).

Sedangkan skala penilaiannya dari 1- 100 untuk pengetahuan dan dalam bentuk deskripsi dan predikat untuk penilaian sikap. 6. KI 1 dan KI 2 ada di semua pelajaran KI 1 dan KI 2 hanya di 2 pelajaran yakni agama dan PPKn 7. Apabila ada 2 nilai Apabila ada 2 nilai Nano (siswa) Micro (kelas) Meso (sekolah) Macro (nasional) Supra (international) JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 47 praktik dalam 1 KD maka diambil yang tertinggi praktik dalam 1 KD maka diambil rata- ratanya. 8.

Aspek silabus banyak. Aspek silabus dirampingkan hanya menjadi 3 kolom saja. 9. RPP menyertakan metode pembelajaran. RPP tidak menyertakan metode pembelajaran. (Kemdikbud, 2016) Sedangkan pada tahun 2017 kurikulum 2013 revisi lagi, supaya menjadi lebih sempurna menghadapi segala tantangan zaman. Poin penting yang menjadi revisi adalah (1) penguatan karakter, (2) peningkatan kompetensi, dan (3) menumbuhkan kesadaran literasi yang tinggi, (Harosid, 2017).

Dalam penguatan karakter mengintegrasikan empat aspek penting, yakni: (1) pengolahan hati, (2) pengolahan rasa/karsa, (3) pengolahan berpikir, dan (4) pengolahan jasmani (Pane & Patriana, 2016). Dalam poin kompetensi mencakup tiga aspek penting, yakni: (1) kompetensi sikap, (2) kompetensi pengetahuan, (3) Kompetensi keterampilan termasuk kecakapan keterampilan abad 21 (meahunor (angka sarstukt ikum D)” n.d.).

Sedangkan dalam menumbuhkan kesadaran literasi yang tinggi maka diperlukan lima aspek, yakni: (1) literasi pokok, (2) literasi perpustakaan, (3) literasi media, (4) literasi teknologi (Daud & Zakaria, 2012), dan (5) literasi visual. Oleh karena itu, untuk merespon semua revisi tersebut guru yang memiliki peran sentral dalam pendidikan, perlu melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran, inovasi tersebut yakni Mengajarkan karakter secara berkesinambungan (hidden curriculum) Walaupun yang berhak


mengajarkan sikap spiritual dan sikap sosial adalah guru mata pelajaran tersebut, tetapi secara moral dan tanggungjawab sebagai guru tetap harus mengajarkan sikap tersebut.

Guru selain mata pelajaran tersebut memang tidak melakukan penilaian secara langsung yang sistematis, guru tersebut juga berhak menilai secara deskriptif yang nampak pada diri siswa. Guru melakukan penilaian secara kualitatif tentang segala hal yang dilakukan siswa. Guru juga wajib memberikan rekomendasi kepada guru yang mengampu mata pelajaran spiritual dan sosial tentang keseharian siswa, apapun yang nampak dan berhubungan dengan sikap tersebut dilaporkan. Guru dapat mengatur perannya dengan fleksibel sesuai kondisi, (Sabirova, 2014). Bagan 2.

Mengajarkan karakter secara berkesinambungan Dalam mengajarkan karakter, semua guru wajib mengajarkannya di manapun dan kapanpun dengan berbagai situasi dan kondisi. Guru tetap memiliki komitmen mengajarkan karakter, walaupun guru tersebut tidak mengajarkannya dalam bentuk mata pelajaran, (Velea & Farca, 2013). Apabila guru melihat siswa yang berkata atau berbuat tidak sesuai dengan nilai, norma, dan agama, maka guru tersebut harus menunjukkan bagaimana cara berkata dan berbuat yang benar, dan menunjukkan bahwa perbuatan tersebut salah wajib ditinggalkan dan tidak diulang lagi.

Penilaian nonformal (hidden curruculum) Penilaian nonformal (hidden curruculum) Guru PAI dan Guru PKn Karakter siswa Guru mapel lainnya Penilaian formal memberikan dukungan dan masukan JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 48 Oleh karena itu, untuk mendukung tercapainya pembelajaran karakter secara terus-menerus dibutuhkan kesungguhan, kepekaan, dan kepedulian guru. Guru secara sadar dan melakukan segala cara untuk menumbuhkan karakter siswa, (lger igt,& r .

Guru mengetahui hal-hal kecil yang dilakukan siswa yang dianggap menyimpang dari karakter, dan merasa prihatin jika siswa ada yang berbuat menyimpang walaupun perbuatan tersebut dikategorikan sepele/biasa. Salah satu cara dalam mengajarkan karakter secara berkesinambungan adalah dengan membuat daftar perkembangan karakter siswa. Hal tersebut seperti membuat intrumen penilaian siswa, supaya terukur dengan jelas, (Fahmy, Bachtiar, Rahim, & Malik, 2015).

Di dalam daftar tersebut, karakter yang ingin dibentuk kepada siswa ditulias kriterianya. Setiap pekan akan dilakukan perekapan daftar tersebut, untuk mengklasifikasikan mana siswa yang mencapai katagori dan mana siswa yang belum mencapai kategori. Setelah itu, hasil dari laporan tersebut dirapatkan dan dibahas dengan semua guru pada akhir setiap bulan.


Dalam rapat tersebut ditentukan rekomendasi, saran, dan perbaikan untuk langkah selanjutnya yang harus dilakukan guru dan siswa. Khusus guru agama dan kewarganegaraan, hasil dari daftar perkembangan karakter siswa tersebut dijadikan salah satu aspek untuk mendukung penilaian karakter pada aspek spiritual dan sosial.

Merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang kreatif, efektif, dan praktis Selain menyamakan antara perangkat pembelajaran dan penilaian, guru juga harus menyamakan antara perencanaan dengan praktik mengajar. Perencanaan yang dibuat kreatif, efektif dan paraktis, maka praktik mengajarnya juga harus kreatif, efektif, dan paraktis. Salah satu keefektifan perencanaan pembelajaran adalah melakukan pengembangan yang berkelanjutan, menekankan pada perubahan kelas, dan melakukan inovasi, (Nesusin, Intrarakhamhaeng, Supadol, Piengkes, & Poonpipathana, 2014).

Walaupun tidak ada data yang dapat menunjukkan ketidaksesuaian tersebut, tetapi dalam praktiknya tetap ada guru yang merencanakan pembelajaran dengan baik, ketika pembelajaran kurang baik. Sebaliknya ada guru yang merencanakan pembelajaran biasa-biasa saja, ketika praktik mengajar sangat luar biasa. Bagan 2. Merencakan dan

melaksanakan pembelajaran yang kreatif, efektif, dan praktis Oleh karena itu, cara efektif yang dapat dilakukan guru dalam mewujudkan kesesuaian antara perencanaan dan praktik, maka dapat melakukan metode (1) latihan, (2) evaluasi, (3) perbaikan, dan (4) peningkatan.

Latihan dimaksudkan membuat perencanaan pembelajaran dan beserta praktiknya sesuai dengan prosedur dan aturan berdasarkan teori. Menyususn perencanaan pembelajaran membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh disertai dukungan teori yang memadai, (Pérez & Malagón, 2017). Perencanaan dibuat sebaik mungkin dengan mengkombinasikan antara kurikulum dengan potensi, sedangkan praktiknya dilakukan semaksimal mungkin Evalua- si Perbai- kan Pening- katan Latihan JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No.

01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 49 sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Setelah membuat perencanaan dan praktik kemudian dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk mencari segala kekurangan dan kelemahan yang ada dalam perencanaan dan praktik tersebut. Proses pembelajaran yang menerapkan hasil perencanaan pembelajaran masih ditemukan siswa yang tidak aktif, (Yildiz & Karabiyik, 2012).

Evaluasi dapat melibatkan guru, siswa, maupun para pakar dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Dalam mengevaluasi dapat menggunakan cara koreksi silang, tukar


pendapat, telaah kembali, maupun tanya jawab. Hasil dari evaluasi ini akan digunakan sebagai pedoman untuk dilakukan perbaikan.

Masukan-masukan dari berbagai sumber tersebut kemudian diperbaiki, baik dengan cara menulis ulang ataupun mengganti bagian-bagian yang memang kurang bagus. Pada tahap ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi, karena harus mengulang atau mengganti bagian secara lengkap. Langkah selanjutnya adalah dilakukan peningkatan, peningkatan maksudnya tidak mengulangi kesalahan yang serupa sebelumnya dan menginovasi yang sudah ada supaya lebih baik lagi. Jika setelah dilakukan peningkatan masih ada bagian yang kurang maka kembali ke tahap latihan, evaluasi, dan perbaikan secara berkesinambungan.

Memilih strategi pembelajaran yang tepat dan mengkreasi tema dan sub tema secara mandiri Memilih strategi pembelajaran juga harus tepat sesuai dengan potensi, tuntutan, dan konteks pelaksanaan. Guru perlu terlibat langsung dalam merancang pembelajaran untuk menyesuaikan dengan lingkungan pendidikan, (Valderrama- Hernández, Alcántara, & Limón, 2017).

Strategi tersebut terdiri dari pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, metode pembelajaran. Contohnya pembelajaran di SD yang terletak di desa, maka pembelajaran yang cocok adalah menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada keaktifan siswa, dengan model pembelajaran langsung dan menggunakan metode simulasi.

Siswa dikenalkan cara bertani dan pengelolaannya di musim penghujan yang benar, kemudian siswa diajak praktik secara langsung. Begitupula dengan cara merawat tanaman dan pengelolaan panen dan pasca panen, siswa juga diajarkan secara langsung caranya. Contoh pembelajaran tersebut didukung dengan mengkreasi tema dan sub tema sendiri, tanpa harus terpaku dengan tema dan sub tema yang sudah ada dari pemerintah.

Dengan demikian guru dapat secara bebas menyusun perangkat pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Manfaat dari mengkreasi tema dan sub tema, guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan maksimal karena hasil kreasi sendiri. Selain itu, juga dapat memudahkan guru dalam mengevaluasi proses pembelajaran. Kondisi tersebut dapat diaplikasikan guru sesuai dengan konteks pembelajarannya.

Guru dapat menginovasi dengan sendiri berdasarkan tempat, situasi, dan kondisi. Hal yang terpenting guru juga harus memperhatikan kemajuan teknologi, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran. Guru dapat memanfaatkan teknologi dalam


pembelajaran, contohnya mengajak siswa mencari referensi atau sumber belajar melalui internet dengan cara dibimbing, didampingi, dan dimotivasi.

Guru yang memiliki kemampuan menginovasi pembelajaran merupakan awal untuk menuju kesuksesan karir sebagai guru, (Vásquez, Contreras, Solís, Nuñez, & Rittershaussen, 2017). JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 50 Dalam membangun kompetensi siswa guru dapat menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran, contohnya pendekatan pedagogi, saintifik dan CLIL, (Harosid, 2017).

Pendekatan pedagodi terdiri dari 4M yakni: (1) membangun konteks, (2) menelaah model, (3) mengonstruksi terbimbing, dan (4) mengonstruksi mandiri. Pendekatan saintifik terdiri dari 5M yakni: (1) mengamati, (2) menanya, (3) mengumpulkan data, (4) menalar, dan (5) mengkomunikasikan. Sedangkan pendekatan CLIL terdiri dari 4K, yakni: (1) konten, (2) komunikasi, (3) kognisi, dan (4) kultur.

Dalam menggunakan pendekatan- pendekatan tersebut dalam pembelajaran tidak harus urut, tetapi yang terpenting semua komponen pendekatan dilakukan semua dalam proses pembelajaran. Guru juga dapat menggunakan berbagai model pembelajaran, agar pembelajaran lebih bervariasi dan tidak monoton. Guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang efektif sesuai dengan kebutuhan siswa, (Shahmohammadi, 2015).

Contoh model pembelajaran tersebut yakni model pembelajaran langsung, model pembelajaran inkuiri, model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran berbasis proyek, model pembelajaran investigasi, model pembelajaran kooperatif, dan model pembelajaran bermain peran. Metode yang dapat digunakan guru juga beragam, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, debat, simulasi, bermain peran, praktik, dan studi lapangan.

Selain itu, media dan sumber belajar yang dapat digunakan guru juga seharusnya beragam, sesuai dengan konteks pembelajaran. Meningkatkan kecakapan berpikir siswa berbasis literasi dan kecakapan abad 21 Dalam membangun siswa yang memiliki kecakapan berpikir, maka siswa harus diajarkan keterampilan berpikir secara holistik.

Siswa yang memiliki kemampuan berpikir secara saintis dan menyeluruh akan menjadi seorang yang mudah menyelesaikan masalah, mudah mengambil keputusan dan kritis, (the education department HKSAR, 2002). Siswa diajarkan keterampilan berpikir tingkat rendah, menengah, dan tinggi baik dari dimensi pengetahuan yang terdiri dari metakognisi, prosedural, konseptual, dan faktual, maupun dimensi kognitif yang terdiri


dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan, (Anderson, Krathwohl, & Airasian, 2000). Pengetahuan metakognisi terdiri dari: mengidentifikasi, memprediksi, menggunakan, mengonsep, menggambarkan, dan menciptakan.

Pengetahuan prosedural terdiri dari: mengingat kembali, mengklasifikasikan, menguji, mengintegrasi, menilai, dan mendesain. Pengetahuan konseptual terdiri dari: mengenali, mengklasifikasikan, menyediakan, membedakan, memutuskan, dan merakit.

Pengetahuan faktual terdiri dari: mendaftar, meringkas, merespon, memilih, mengecek, dan menjeneralisasikan.

Semua kompenen pengetahuan tersebut hendaknya mampu diajarkan kepada siswa di setiap tingkatannya. Sedangkan untuk menumbuhkan literasi siswa maka siswa perlu diajarkan 5 jenis keterampilan literasi, yaitu (1) primary literate, (2) Library literate, (3) technology literate, (4) visual literate, dan (5) media literate. Primary literate terdiri dari: mendengar, berbicara, membaca, menulis, berhitung, mempredikasi, dan menyimpulkan.

Library literate terdiri dari: membedakan berbagai jenis bacaan, menggunakan berbagai jenis sumber bacaan, membaca katalog, mencari berbagai jenis bacaan, memahami JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 51 pengindeksan, menggunakan berbagai pengetahuan dan informasi untuk menyelesaikan masalah.

Technology literate terdiri dari: memahami etika menggunakan teknologi, mengetahui hardware dan software, menggunakan internet dengan bijak, mengoperasikan komputer dengan benar. Visual literate terdiri dari: memanfaatkan berbagai bentuk visual dan audiovisual dengan benar dan memahami berbagai bentuk visual digital.

Sedangkan media literate terdiri dari: mengetahui berbagai bentuk media (cetak dan elektronik), menggunakan berbagai media dengan benar sesuai kaidah penggunaannya.

Selanjutnya, yang harus diajarkan kepada siswa dalam menumbuhkan kecakapan berpikir adalah melatihkan kecakapan abad 21. Siswa seharusnya diajarkan kecakapan abad 21 untuk mewujudkan siswa yang memiliki kualifikasi sesuai kebutuhan dunia kerja, (Ongardwanich, Kanjanawasee, & Tuipae, 2015).

Kecakapan abad 21 yang utama adalah (1) menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa, (2) menumbuhkan kemampuan berkreativitasn dan berinovasi siswa dalam segala proyek dan tugas, (3) menumbuhkan kemampuan berkomunikasi siswa dengan berbagai lingkungan, dan (4) menumbuhkan kemampuan berkolaborasi siswa dalam


berbagai bentuk tugas.

Dalam pembelajaran,kecakapan literasi dan kecakapan abad 21 dapat dimasukkan dalam RPP (renca pelaksanaan pembelajaran), agar pembelajaran dapat berjalan dengan sistematis. Begitu pula, untuk mengukur keberhasilan setiap siswa, juga harus dibuat instrumen penilaiannya yang sesuai. Sehingga guru dapat mengetahui capaian setiap siswa, manfaatnya akan memudahkan guru dalam mengevaluasi pembelajaran.

Berikut ini pola menyusun perencanaan pembelajaran yang kreatif, efektif dan praktis. Tabel 2. Pola menyusun perencanaan pembelajaran No. Komponen Kegiatan 1. KI Memilih KI dari Kemendikbud yang disesuaikam dengan konteks pembelajaran 2. KD Memilih KD dari Kemendikbud yang disesuaikam dengan konteks pembelajaran 3.

Tujuan pembelajaran Menyusun tujuan pembelajaran yang mencangkup pengetahuan, sikap dan keterampilan ditambah dengan tujuan utama kurikulum yakni karakter, kompetensi, kecakapan abad 21 dan literasi, dipat diintegrasikan maupaun terpisah pada setiap tujuan pembelajarannya. 4.

Materi Materi disusun dengan memperhatikan kedalaman, keluasan, dan kebaharuan ilmu pengetahuan kemudian disajikan den gan cara kreatif dan menarik. 5. Pendekatan pembelajaran Memilih salah satu pendekatan pembelajaran yang paling sesuai dengan konteks pembelajaran. 6. Model pembelajaran Memilih salah satu pembelajaran pembelajaran yang paling sesuai dengan konteks pembelajaran, dan ditulis sintaknya agar alur JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 52 No. Komponen Kegiatan pembelajaran lebih dipahami. 7.

Metode pembelajaran Metode pembelajaran dapat ditentukan dengan berbagai pilihan, dapat dipadukan agar pembelajaran lebih aktif. 8. Media pembelajaran Media pembelajaran disesuaikan dengan tema pembelajaran. 9. Karakter Diintegrasikan dengan tujuan pembelajaran atau dipisah menjadi poin-poin setiap tujuan pembelajaran. 10.

Literasi Diintegrasikan dengan tujuan pembelajaran atau dipisah menjadi poin-poin setiap tujuan pembelajaran. 11. Kecakapan abad 21 Diintegrasikan dengan tujuan pembelajaran atau dipisah menjadi poin-poin setiap tujuan pembelajaran. 12. Kegiatan pembelajaran Kegiatan pembelajaran ditulis secara runtut sesuai model pembelajaran yang dipilih, agar sistematis dapat dibuat dalam bentuk tabel yang berisi kegiatan siswa dan guru menurut sitaks model pembelajaran tersebut. 13.

Penilaian (kisi-kisi, soal, tugas, rubrik) Penilaian dan kisi-kisi dibuat berfariatif yang


mencangkup semua taksonomi berpikir siswa. Simpulan Inovasi yang dapat dilakukan guru dalam menerapkan kurikulum 2013 edisi revisi tertumpu pada kualifikasi guru.

Guru harus mampu mengembangkan kualifikasinya secara mandiri dan berkesinambungan, karena perubahan kurikulum adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari lagi.

Alasan kurikulum berubah selalu diawali perubahan peradaban manusia dari berbagai aspek, yakni: sosial, ekonomi, budaya, teknologi, pertahanan, hukum, dan ilmu pengetahuan. Ada empat hal utama yang dapat dilakukan guru untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013 edisi revisi. Pertama, semua guru memiliki kewajiban mengajarkan karakter secara hidden kurikulum.

Artinya guru memiliki peran moral dalam membmbing karakter siswa, walaupun tidak melakukan penilaian secara langsung dan terstruktur. Hal ini juga sekaligus menjawab tantangan pendidikan yang kedua, yakni dalam hal kompetensi dan spesialisasi. Kedua, guru harus melakukan pengembangan dalam pembelajaran, khususnya dalam hal membuat rencana pembelajaran yang efektif, praktis, dan kreatif.

Hal ini juga menjadi jawaban tantangan pendidikan yang pertama, yakni dalam hal perubahan lingkungan alam dan sosial yang dinamis. Ketiga, guru harus memiliki referensi strategi pembelajaran yang up to date sehingga mampu mengkreasi pembelajaran dan mengembangkan tema dan sub tema secara mandiri. Hal ini sekaligus menjawab tantangan pendidikan yang ketiga dalam hal literasi dan inovasi teknologi.

Keempat, guru harus mempu mengembangkan keterampilan berpikir siswa berbasis kecakapan abad 21 dengan mengkreasi pembelajaran yang mengarah pada keterampilan tersebut, ini juga menjawab tantangan yang ketiga dalam hal literasi dan digital teknologi. JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 53 Dalam artikel ini hanya mengulas isu dari berbagai sumber literatur, sehingga ke depan masih diperlukan penelitian lapangan untuk membuktikan gagasan- gagasan yang ada dalam artikel ini.

Bagi guru, praktisi, dan profesional sangat dibutuhkan saran dan kriktiknya dalam menyempurnakan artikel ini, karena keterbatasan peneliti dalam menggali berbagai sumber referensi. Selain itu, karena kurikulum yang sedang dilaksanakan pemerintah ini masih berkembang terus sehingga peneliti luput dari informasi yang berkembang.

DAFTAR PUSTAKA Akker, J. van den, Boer, W. de, Folmer, E., Kuiper, W., Letschert, J., Nieveen, N., & Thijs, A. (2009). Curriculum in Development.


Netherlands Institute for Curriculum Development, 9 – 58. https://doi.org/10.4135/978141295880 6.n116 Anderson, L. W., Krathwohl, D. R., & Airasian, P. W. (2000). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: Arevision Bs of educational objectives. Daud, M. Y., & Zakaria, E. (2012). Web 2.0 Application to Cultivate Creativity in ICT Literacy. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 59, 459

466. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012. 09.301 Fahmy, R., Bachtiar, N., Rahim, R., & Malik, M. (2015).

Measuring Student Perceptions to Personal Characters Building in Education: An Indonesian Case in Implementing New Curriculum in High School. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 211, 851 – 858. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015. 11.112 Harosid, H. (2017). Kurikulum 2013 Revisi 2017, 59. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2016). Kurikulum 2013. Nesusin, N., Intrarakhamhaeng, P., Supadol, P., Piengkes, N., & Poonpipathana, S. (2014).

Development of Lesson Plans by the Lesson Study Approach for the 6 th Grade Students in Social Study Subject based on Open Approach Innovation. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 116, 1411 – 1415. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014. 01.407 Ongardwanich, N., Kanjanawasee, S., & Tuipae, C. (2015). Development of 21st Century Skill Scales as Perceived by Students. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 191, 737

– 741. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.

04.716 Pane, M. M., & Patriana, R. (2016). The Significance of Environmental Contents in Character Education for Quality of Life. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 222, 244 252. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2016. 05.153 Pérez, M. L., & Malagón, C. G. (2017). Creating Materials with ICT for CLIL Lessons: A Didactic Proposal. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 237(June 2016), 633 – 637. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2017.

02.029 permen_tahun2013_nomor67 (kerangka dasar struktur kurikulum SD). (n.d.). Sabirova, D. R. (2014). Continuous Teacher Education: Quality Assurance. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 143, 243 – 246. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.

07.396 Shahmohammadi, N. (2015). Competent Teacher Characters from Students Point of View.

Procedia - Social and Behavioral Sciences, 205(May), 242 JURNAL PENA KARAKTER Jurnal Pendidikan Anak dan Karakter Vol. 01, No. 01, Oktober 2018 p-ISSN 2654-3001 54 246. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015. 09.067the education department HKSAR. (2002). Key learning area curriculum guide. Ü,M. igt,S,& r 2014) SndarShol eacsBefs on Character Education Competency. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 131(4310),


442 449. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.

04.145 Valderrama-Hernández, R., Alcántara, L., & Limón, D. (2017). The Complexity of Environmental Education: Teaching Ideas and Strategies from Teachers. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 237(June 2016), 968 – 974. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2017. 02.137 Vásquez, N., Contreras, I., Solís, M. C., Nuñez, C., & Rittershaussen, S. (2017). An analysis of teaching practices among newly qualified teachers working in diverse classrooms.

Procedia -Social and Behavioral Sciences, 237(June 2016), 626 – 632. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2017. 02.025 Vea,S,& ca,S 2013) eacher Responsibility in Moral and Affective Education of Children. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 76, 863 – 867. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013. 04.221 Yildiz, Z., & Karabiyik, B. (2012).

The Implementation of a Lesson Plan Which is Prepared According to the Meaningful Learning Theory and Evaluation of the Results. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 46, 4021 4025. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012. 06.190

INTERNET SOURCES:

------------------------------------------------------------------------------------------- 21% -

https://www.researchgate.net/publication/328978912_PERAN_GURU_DALAM_MENGIMP LEMENTASIKAN_KURIKULUM_2013_EDISI_REVISI

<1% -

https://www.researchgate.net/publication/280573897_Longterm_development_of_how_s tudents_interpret_a_model_-_Complementarity_of_context_mathematics

<1% -

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180904182901-284-327637/metode-pen didikan-baru-menghadapi-revolusi-industri-40

<1% -

https://www.academia.edu/34921901/High_Order_Thinking_Skills_Analisis_Soal_dan_Imp lementasinya_dalam_Pembelajaran_Fisika_di_Sekolah_Menengah_Atas

<1% -

https://10artikeltentangitleonatat.blogspot.com/2015/09/10-artikel-tentang-kemajuan-i t.html

<1% - https://www.academia.edu/5141471/MAKALAH_MANAJEMEN_PENDIDIKAN

<1% -

https://nelly-chandrawati.blogspot.com/2013/11/panduan-umum-bimbingan-konseling. html

<1% -


https://nasibhonorerk2.blogspot.com/2018/06/silabus-kurikulum-2013-sma-revisi-2017. html

<1% - https://gurukelassaya.blogspot.com/2018/03/penilaian-potofolio.html

<1% -

https://jorjoran.wordpress.com/2011/10/04/literatur-dan-bahan-ajar-sejarah-kebudayaa n-islam-pada-smp/

<1% -

https://kumpulanartikelmahasiswa.blogspot.com/2014/07/bagaimana-menilai-aspek-spi ritual-dan.html#!

<1% - https://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jpm/article/download/2090/946

<1% -

https://nurizzahmaulidina.blogspot.com/2017/03/tujuan-dan-perencanaan-diri.html

<1% -

https://arsipkaril.blogspot.com/2015/05/penerapan-metode-demonstrasi-dengan.html

<1% -

https://rudtsoneclick.blogspot.com/2013/05/makalah-evaluasi-dan-pengembangan.htm l

<1% - https://arbayudi.blogspot.com/2013/09/permasalah-pada-jaringan-lan.html

<1% -

https://epunsil.wordpress.com/langkah-langkah-sukses-membuat-proposal-penelitian/

<1% - http://repository.upi.edu/12835/8/S_PGSD_1003374_Chapter5.pdf

<1% - https://pindaiilmu.blogspot.com/2015/06/makalah-model-pembelajaran.html

<1% -

https://sofyanto-medan.blogspot.com/2009/10/kreatifitas-guru-dalam-mengembangka n.html

<1% -

https://docobook.com/strategi-pembelajaran-dan-kemampuan-berpikirb42417a13c5c6 27898d72304427f222388908.html

<1% - https://septianinindut.blogspot.com/2014/03/tujuan-pembelajaran-pai.html

<1% - https://posmadmk.blogspot.com/2013/04/peranan-pemerintahan-terhadap.html

<1% - https://faateha.blogspot.com/2010/01/pembelajaran-bahasa-inggris-yang.html

<1% - https://core.ac.uk/download/pdf/82665598.pdf

<1% - https://core.ac.uk/display/82287693

<1% -

https://www.researchgate.net/publication/273425697_Development_of_Lesson_Plans_by

_the_Lesson_Study_Approach_for_the_6th_Grade_Students_in_Social_Study_Subject_base d_on_Open_Approach_Innovation

<1% -

https://www.bing.com/aclick?ld=e3AfdIRGZ6IlpMaswfwaPb3jVUCUznk_pOoCdVTfZped5 MB0XoAFZFERxRHPP6zKIXFuZRA8COtWkmaBHlcx-5YztxeRKtMXLyVyw1uvrIb6SwLJLknw


byRK_gmKGQd8nhE_DzCRDZDfneSIiG5PSNj4kxnHc&u=aHR0cHMlM2ElMmYlMmZ3d3c uc21hcnRlci5jb20lMmZhciUzZnElM2Rzb2NpYWwlMjUyMGFuZCUyNTIwYmVoYXZpb3Jh bCUyNTIwc2NpZW5jZXMlMjZvJTNkNzU5MzYyJTI2cmNoJTNkaW50bDEyOQ&rlid=c135c 8afb7b4125c6aa3947a810642ac

<1% -

https://www.researchgate.net/publication/282536091_Development_of_21st_Century_Ski ll_Scales_as_Perceived_by_Students

<1% - https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042816302270

<1% -

https://www.researchgate.net/publication/314713940_Creating_Materials_with_ICT_for_C LIL_Lessons_A_Didactic_Proposal/fulltext/58c5532192851c0ccbfb7261/314713940_Creati ng_Materials_with_ICT_for_CLIL_Lessons_A_Didactic_Proposal.pdf

<1% -

https://www.researchgate.net/publication/275544120_Continuous_Teacher_Education_Q uality_Assurance

<1% -

https://www.researchgate.net/publication/283957014_Competent_Teacher_Characters_fr om_Students_Point_of_View/fulltext/5688417708ae19758398f56b/283957014_Compete nt_Teacher_Characters_from_Students_Point_of_View.pdf

<1% - http://www.ijese.net/arsiv/139

1% - https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S187704281201926X

 

 

 

Foto Slide

Please wait while JT SlideShow is loading images...
Belajar di AAL BumimoroBelajar di AAL BumimoroOutbond AALTahfidz Camp 2016Susur Sungai BrantasPramuka STKIP Al Hikmah Pelepasan Balon pada Hari Guru NasionalPanitia Peringatan Hari Guru NasionalPanitia Peringatan Hari Guru Nasional