Written by Humas Al Hikmah   
Tuesday, 19 September 2017 12:33

STKIP AL Hikmah Surabaya menyelenggarakan kuliah umum dengan pembicara Koordinator Kopertis Wilayah VII, Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA. Pengetahuan dan motivasi yang beliau sampaikan mampu meyakinkan sivitas akademika STKIP Al Hikmah Surabaya, sebagai bekal menjadi guru dalam membangun peradaban.Beliau sepakat dengan penggalan Mars Al Hikmah Surabaya, ‘tegakkan dakwah Islam hadapi setiap tantangan, ubah zaman bangun peradaban.’ Demikian juga dengan profesi guru memiliki peran membangun peradaban generasi bangsa.

Guru Besar kelahiran Besuki ini bukan hanya menyampaikan trik menjadi guru yang baik namun juga pengalaman pribadi yang inspiratif. Merasa lahir dan besar di daerah pedalaman tidak membuat cita-cita besar beliau terkubur tanpa usaha. Terbukti dengan semangat beliau untuk pindah ke Pulau Madura, Pamekasan, demi mengejar ilmu. Tidak hanya sampai di Pamekasan, beliau terus hijrah hingga ke Surabaya bahkan melewati benua, melanjutkan pendidikan Strata III ke Prancis. Gelora semangat beliau tersampaikan dengan kalimatnya, “Sejak SD ketika ditanya oleh guru saya ingin menjadi apa, saya selalu menjawab GURU. Sekarang saya menjadi guru, GURU BESAR.” Gemuruh tepuk tangan para peserta kuliah tamu mewakili rasa kagum atas prestasi beliau yang membanggakan. Semakin membangkitkan keyakinan bahwa meski berasal dari pedalaman namun tidak ada alasan untuk berhenti belajar dan berkarya.

Materi yang beliau sampaikan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mewujudkan guru pejuang abad 21, berkarakter, dan peduli pada umat. Power point singkat yang telah beliau persiapkan menampilkan strategi menuju generasi emas, fungsi Pendidikan Tinggi berdasarkan UU No.12 Tahun 2012, penguasaan era kompetisi, serta kebutuhan di zaman globalisasi, dan internasionalisasi dalam lingkup pendidikan. Semua materi yang dipaparkan membuat para mahasiswa bermain dengan otak kanan dan kiri mereka. Terlihat dari salah satu pertanyaan kritis mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika, Ari Krismandana, “Menurut Ustaz, mengapa guru fisika di Indonesia saat ini sudah sangat langka sementara Indonesia memiliki banyak Perguruan Tinggi?”

Tidak hanya bertukar informasi dan pengetahuan, ada yang unik dari forum kuliah umum di STKIP Al Hikmah Surabaya.Acara diawali dengan pembacaan puisi dari karya salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, M. Afif Maulana. Selain itu, moderator kuliah umum, Rian Surya Saputra, M.Pd., berhasil ‘memancing’ kemampuan berpantun sang Profesor. Berawal dari pantun moderator, ‘air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan, izinkan saya ucapkan salam, untuk hadirin sekalian.’ yang kemudian pada sesi selanjutnya pemateri membalas pantun karena merasa ‘panas’ dengan kemampuan berpantun moderator.

Salah satu pantun beliau, ‘jalan merayap disebut tiarap, jalan cepat disebut berlari, bila memberi tanpa berharap, itu ciri kemuliaan hati.’ Ada juga pantun, ‘Makanan khas Sumatera ada nasi padang, di Jawa Timur ada rujak cingur, teruslah STKIP Al Hikmah gemilang, untuk mewujudkan generasi makmur.’ Suasana kuliah umum menjadi semangat karena balasan-balasan pantun. Bahkan Afif kembali membalas pantun, Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA, di penghujung acara berisi kesanggupan sebagai mahasiswa, mereka siap untuk selalu menimba ilmu.

Beliau juga menyampaikan keinginannya melihat mahasiswa STKIP Al Hikmah Surabaya kelak menjadi pemimpin bangsa. Semoga harapan beliau dapat terwujud sehingga STKIP Al Hikmah tidak hanya berkontribusi melahirkan guru pejuang tetapi juga siap mengabdi kepada bangsa Indonesia membangun peradaban. (wid)

 

 

Foto Slide

Please wait while JT SlideShow is loading images...
Belajar di AAL BumimoroBelajar di AAL BumimoroOutbond AALTahfidz Camp 2016Susur Sungai BrantasPramuka STKIP Al Hikmah Pelepasan Balon pada Hari Guru NasionalPanitia Peringatan Hari Guru NasionalPanitia Peringatan Hari Guru Nasional